Jejak Kasih Karunia: Perjalanan Saya Sebagai Guru TTC

Perkenalkan nama saya Ulina Hotmaria Galingging. Biasanya saya disapa Uli. Saya merupakan satu dari ribuan orang yang diizinkan untuk melayani sebagai guru TTC. Pengalaman sebagai guru TTC merupakan bagian dari kasih karunia Allah. Kasih karunia itu diberikan secara cuma-cuma dengan bonus yang amat sangat banyak. Padahal seharusnya, saya tidak layak untuk mendapatkan kasih karunia itu.

Saya merupakan anak kedua dari tujuh orang bersaudara. Keadaan ekonomi keluarga saya bisa dikategorikan golongan menengah ke bawah. Dengan keadaan ekonomi yang tidak baik-baik saja, dapat dipastikan saya tidak memiliki bayangan baik tentang masa depan saya.

Namun semua itu berubah ketika Tuhan izinkan saya boleh menempuh pendidikan sarjana. Sama seperti kebanyakan orang, setelah lulus sarjana saya mulai apply lamaran kerja. Karena saya memiliki “mimpi kecil” untuk mengabdi sebagai guru di Papua, maka lamaran yang saya kirim sebagian besar merupakan lamaran pengabdian ke Papua. Namun dari sekian banyaknya lamaran tersebut, belum ada satupun yang diterima.

Hingga akhirnya saya mulai menyerah, saya katakan pada Tuhan “Baiklah Tuhan, mungkin Papua bukanlah tempat buat saya, mungkin saya harus mengabdi di kampung saya sendiri. Uniknya walaupun sudah menyerah, saya tetap melamar lowongan guru TTC yang dibagikan oleh teman saya. Ketika melamar sebagai guru TTC, saya tidak lagi memiliki ambisi yang besar seperti ketika melamar pengabdian sebelumnya. Saya mengikuti prosesnya step by step, bertekun dalam doa dan menyerahkan semua prosesnya pada kehendak Tuhan. Tidak ada ambisi pribadi yang saya bawa ketika proses recruitment berlangsung. Saya hanya ikut maunya Tuhan.

Nats yang selalu menjadi pegangan saya selama mengikuti proses ini tertulis di Matius 9:37 “Maka kata-Nya kepada murid-murid-Nya: Tuaian memang banyak tetapi pekerja sedikit.”

Tidak tahu mengapa, nats ini selalu saja berbicara di hati saya setiap hari, sehingga walaupun tidak ada ambisi, namun Tuhan seakan memberikan ketenangan dan keyakinan bahwa saya salah satu orang yang dipilihnya untuk menjadi guru TTC.

Dalam doa saya selalu katakan: “Tuhan jika ini memang rencana-Mu, maka izinkanlah semua prosesnya lancar tanpa ada kendala apapun.”

Akhirnya setelah mau menyerahkan semua rencana kepada Tuhan, maka Dia bekerja dengan cara-Nya. Saya diterima sebagai guru TTC Angkatan IV. Setelah dinyatakan lulus sebagai calon guru TTC, akhirnya saya dan guru-guru dari daerah lain diberangkatkan ke Malang untuk mengikuti pelatihan selama tiga bulan. Pelatihan ini menjadi waktu paling bersejarah di dalam kehidupan saya. Saya sangat bersyukur karena difasilitasi untuk mengikuti pelatihan ini. Dulu sampai saat ini saya masih berharap semua orang bisa mengikuti pelatihan yang difasilitasi oleh MPK-TBN.

Pelatihan selama tiga bulan bukanlah pelatihan yang menyenangkan untuk sekedar hura-hura. Di sini saya ditempa menjadi pribadi yang lebih mengasihi Tuhan. Jika kamu pernah mendengar lagu “Bagaikan Bejana”  demikianlah hal yang saya rasakan terjadi di dalam kehidupan saya selama tiga bulan.

Banyak ketakutan-ketakutan dan trauma saya yang diluruskan, sehingga ketakutan dan trauma itu tidak lagi menjadi beban di hidup saya. Saya juga akhirnya dapat berkomunikasi nyaman dengan mama, sejak diajarkan untuk melepaskan pengampunan atas semua ketakutan yang tanpa sengaja diciptakan oleh mama saya. Di sini saya juga diajarkan untuk menjadi pribadi yang disiplin dan tidak terlalu keras dalam bertindak dan berbicara. Selama proses pelatihan kami diajar dan dibimbing oleh dosen-dosen pilihan yang sangat baik dalam mengajar. Bukan hanya paham tentang materi yang diajarkan, dosen juga dapat merangkul, membawa aura positif dan menjadi kesaksian hidup tentang baiknya Tuhan di dalam kehidupan mereka. Hal yang paling penting yang saya dapatkan selama tiga bulan pelatihan yaitu saya dibentuk untuk menjadi pribadi yang semakin mengenal Tuhan dan selalu berjalan bersama Tuhan di dalam setiap kondisi kehidupan saya.

Selesai pelatihan selama tiga bulan, kami diutus ke medan layan masing-masing.

Awalnya saya akan ditempatkan di Nusa Tenggara Timur (NTT). Namun atas seizin Tuhan melalui pergumulan doa Mama Yuli, Papa David, Kak Zein dan semua team MPK-TBN, akhirnya saya diizinkan untuk mengabdi di Papua. Bonusnya lagi saya bisa berada di beberapa tempat yang ada di Papua Barat. Cara Tuhan sungguh sangat menakjubkan.

Setelah dipersiapkan dengan sangat matang, tibalah waktu pengutusan. Acara pengutusan ini kami juga disebut dengan wisuda. Kami pun diwisuda dengan acara ibadah dan pemberkatan. Acara wisuda menjadi salah satu momen haru dan mengesankan.

Saya ditugaskan melayani di Desa Kapaurtutin, Kabupaten Fakfak, Papua Barat. Saya melayani dengan seorang partner asal Kupang NTT bernama Susanti Bekliu. Susanti merupakan salah satu perempuan timur yang saya kagumi dan masih berhubungan baik dengan saya sampai saat ini.

Ketika pertama kali menginjakkan kaki di Papua, banyak hal menakjubkan yang saya dapat saksikan melalui keindahan alam dan kearifan lokalnya. Seperti lagu yang sering saya dengar “Tanah Papua surga kecil yang turun ke bumi”. Saya sangat bersyukur bisa diberi kesempatan melayani di tanah ini, Tuhan sungguh memberikan karunia-Nya kepada saya.

Sebagai seorang guru TTC kami diajarkan untuk menjadi pendidik yang melayani. Saya menyadari bahwa pekerjaan saya sebagai seorang guru bukan hanya sekedar sebuah profesi, tetapi merupakan sebuah panggilan untuk menjadi teladan dalam mengajar secara holistik.

Tugas kami di sekolah selain mengajar adalah memberikan pelatihan kepada guru-guru tentang pentingnya pendidikan Kristen yang holistik. Kami juga memberikan pelatihan tentang cara menggunakan teknologi sebagai pendukung kegiatan belajar mengajar.

Bukan hanya memberikan pelatihan secara teori, namun kami juga mengajak guru-guru untuk bertumbuh secara rohani. Sama seperti kami telah diizinkan bertumbuh secara rohani, demikian kami juga harus meneruskan apa yang baik yang telah kami terima.

Bertumbuh dan berjalan bersama Kristus harusnya menjadi landasan dasar dan nafas hidup bagi guru-guru Kristen. Hal ini dikarenakan Kristus adalah sang Guru Agung yang menjadi satu-satunya teladan.

Guru TTC telah didik untuk berintegritas melayani dengan kasih sepenuh hati, oleh sebab itu kami tidak pernah melakukan perhitungan untung dan rugi dalam pelayanan ini. Hampir seluruh waktu kami gunakan untuk melayani.

Setelah selesai mengajar di sekolah, kami juga pergi berkunjung kerumah peserta didik untuk berinteraksi dengan orang tua dan keluarga. Ketika musim panen pala tiba, maka kami juga ikut ke kebun bergotong royong bersama penduduk sekitar. Kami juga turut ambil bagian dalam kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan di desa maupun gereja.

Kesempatan berkumpul menjadi salah satu wadah untuk menceritakan kesaksian tentang betapa baiknya Tuhan di dalam kehidupan kami. Kami percaya  bahwa semakin sering kita bersaksi tentang kebaikan Tuhan, maka akan semakin banyak jiwa yang kembali kepada Kristus. Oleh sebab itu tidak layak rasanya membuang-buang waktu yang telah Tuhan berikan.

Bahkan di akhir malam menjelang tidur kami juga memberikan hati untuk sharing firman dan menuliskan perjalan spiritual selama satu hari dalam sebuah jurnal harian. Mungkin jurnal harian saya saat ini sudah bisa dijadikan buku beratus-ratus halaman. Ini menjadi warisan yang tidak akan pernah hilang.

Sekolah yang telah diizinkan untuk kami layani selama di Papua total tiga sekolah induk dan lebih dari tujuh sekolah dampingan. Pelayanan kami dimulai dari Fakfak, SDK Kapaurtutin kemudian ke SDK Kayuni, menyebrang ke Manokwari, di SD YPPI Wosi 2 dan kemudian dipercaya untuk melakukan pelatihan dan pembimbingan di SD YPPGI Manokwari Selatan dan sekitarnya.

Saya bersyukur karena dapat menuliskan kisah ini kembali. Semoga semakin banyak generasi muda yang peduli dengan pendidikan. Semakin banyak guru yang hatinya dijamah dan menjadikan Kristus sebagai teladan. Semoga pelayanan guru-guru TTC yang dinaungi oleh Yayasan Transformasi Bagimu Negeri semakin menjadi obor injil yang menyala sampai ke seluruh pelosok negeri.

Melalui tulisan ini saya juga berterima kasih buat para sponsor yang mau menjadi donatur sehingga program ini dapat berjalan. Saya merupakan salah satu dari banyak guru-guru TTC yang mendapatkan dampak luar biasa dari program ini. Oleh sebab itu saya percaya bahwa apa yang saat ini telah Bapak/Ibu tabur tidak akan sia-sia.

Tanpa kita sadari dan lihat, saat ini sudah ada pucuk-pucuk muda  yang mulai berbunga. Kiranya bunganya dapat berbuah dan menjadi berkat buat lebih banyak orang.

Penting sekali untuk diketahui bahwa ketakutan setelah selesai kontrak guru TTC bukalah sebuah momok yang perlu ditakuti. Karena selagi kita mau bergantung sepenuhnya kepada Tuhan, maka masa depan kita akan terjamin. Saya menyaksikan bahwa setelah selesai kontrak guru TTC, Yayasan tidak serta merta lepas tangan. Kami masih tetap dibimbing bahkan diberikan rekomendasi untuk mengajar di beberapa sekolah Kristen di bawah naungan Yayasan TBN.

Walaupun saat ini saya tidak lagi berkecimpung di dunia pendidikan, namun hasil dari penempaan yang telah saya lalui sebagai guru TTC telah menjadikan saya pribadi yang berintegritas dan mampu bertahan di dunia kerja. TTC adalah rumah saya dan saya berharap ini juga rumah bagi banyak orang.

Tetaplah menjadi pribadi yang Optimis, Keep Fighting, Always Pray, Totally Depend on God (OKAT).

Salam OKAT

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *