Kota Pala – Margretrio Bessie

“Kota pala itulah julukan untuk kota Fakfak” Kata orang-orang di sini karena banyak pohon pala dan kota Fakfak ini adalah penghasil buah pala. Waktu saya mendengar nama kota Fakfak saya merasa sedikit lucu karena sangat asing terdengar di telinga saya, bahkan saat saya tiba dan menginjakkan kaki di kota ini saya merasa sedikit khawatir karena bertepatan waktu itu ada kerusuhan di kota ini 2 hari sebelum kami tiba di tempat ini. Bersyukur kami tiba disaat kerusuhan sudah berakhir, yang tersisa hanya puing-puing gedung pasar dan rumah adat Fakfak yang terbakar akibat kerusuhan.

Fakfak adalah kota yang kecil dibandingkan dengan sorong yang adalah ibu kota provinsi, di kota ini masyarakat hidup berdampingan, baik dari suku, ras dan agama, maka dari itu kota Fakfak ini diberi slogan “satu tungku tiga batu” yang artinya ada 3 agama yang dianggap saudara, yaitu Kristen protestan, Kristen katolik dan Islam.  Kota pala ini juga sudah banyak berdatangan orang-orang pendatang, untuk menemukan masyarakat asli Papua itu harus pergi ke kampung, kampungnya terletak di gunung, untuk pergi kesana kita harus menaiki kendaraan umum,  yaitu taxi. Masyarakat-masyarakat Papua yang ada di kampung mereka mencari nafkah dengan bercocok tanam, mereka menanam sayur, buah pala dan buah durian. Kalau sudah musim pala anak-anak tidak ke sekolah tapi malah pergi ke hutan mencari buah pala untuk dijual, harusnya anak-anak tidak perlu bekerja seperti itu, tugas anak-anak itu sekolah tapi malah harus bekerja, kurangnya perhatian dari orangtua akan pendidikan anak-anak mereka membuat anak-anak jadi malas pergi ke sekolah.

Papua barat ini menjadi tempat pertama saya merantau selama hidup saya, banyak hal yang dapat saya pelajari di tempat ini, mulai dari adat istiadat, bahasa, karakter orang-orangnya yang sangat beragam, di Fakfak ini barang-barangnya sangat mahal sekali, karena semua barang-barangnya itu di impor dari luar kota, itulah yang membuat barang dagangan di kota ini sangat mahal sekali, awal mendengar harga barang di sini saya benar-benar kaget, dibandingkan dengan kota Kupang barang-barang di Kupang murah meriah tetapi saya bersyukur karena di tempat ini saya belajar bagaimana hidup berdampingan dengan orang lain yang bukan keluarga tapi sudah seperti keluarga sendiri. Di tempat ini juga saya belajar menghargai orang lain, saya belajar hidup mandiri, belajar menerima partner kerja saya, belajar menahan kesabaran, belajar menahan ego diri sendiri, belajar hal-hal baru yang belum pernah saya temui, saya juga belajar mencoba makanan-makanan di kota Fakfak ini yang belum pernah saya rasakan sebelumnya, yaitu makan manisan pala, sayur tagas-tagas dan papede makanan khas Papua.

Hari-hari yang saya lalui penuh dengan pergumulan, bergumul untuk menahan diri itu tidak semudah yang dibayangkan, tapi harus tetap saya jalani karena melalui pergumulan yang berat inilah yang membuat saya belajar untuk bertumbuh menjadi dewasa, bukan hanya dewasa secara umur saja tapi dewasa secara iman juga, dalam pelayanan menjadi teacher transformasi center ini juga saya belajar untuk mengandalkan Tuhan sepenuhnya, tidak ada yang bisa saya andalkan selain Tuhan, saat saya merasa ingin menyerah saya datang kepada Tuhan, saat saya disakiti saya menangis kepada Tuhan, saat saya merasa takut ada Tuhan yang memeluk saya dengan kasih-Nya, bahkan saya pernah kok marah kepada Tuhan saat suasana hati saya sedang kacau, tetapi saat saya melakukan worship, baca Alkitab dan saat teduh saya kembali diingatkan Tuhan bahwa ini adalah proses dari Tuhan yang harus saya lewati untuk menjadi lebih baik, proses itu terkadang menyakitkan tapi hasil dari proses itu akan terlihat jika terus mengikuti alur Tuhan.

Selama saya pelayanan di kota pala ini saya belajar untuk bersyukur, kenapa saya bersyukur..? Karena setiap pagi saya selalu menerima kasih anugerah dari Tuhan. Saya bersyukur akan setiap proses Tuhan yang terjadi dalam diri saya, sisa waktu 2 bulan di tempat ini saya ingin semua orang tau tentang kebaikan Tuhan yang sudah saya rasakan selama pelayanan disini, saya juga berterima kasih kepada orang-orang baik yang sudah Tuhan kirim untuk menolong saya, terima kasih kota pala sudah mengizinkan saya untuk belajar arti kehidupan di sini selama 2 tahun, saya tidak akan pernah lupa semua cerita yang saya alami di kota penuh kenangan ini.

Siapaun yang membaca tulisan ini, semoga suatu saat bisa datang ke kota pala ini dan menikmati setiap keindahan kota ini yang sudah Tuhan siapkan untuk dinikmati saja. Tuhan memberkati kita semua.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *