SARJANA ILMU POLITIK JADI GURU TRANSFORMASI? Oleh Nevlita Sianturi

Hallo Friends…. (Jawabnya haii yaa)
Haiii Friends…. (Jawabnya Hallo yaa)
Senang sekali berkesempatan berbagi di ruang ini. Semoga yang membaca juga menjadi senang setelah membaca tulisan saya yaa. Hahah (Ngarep bangetttt)
Perkenalkan nama saya Nevlita Sianturi. Tumbuh dan berkemabang di Medan. Dan dua tahun terakhir ini sedang bertumbuh dengan senangnya di Sumba Barat bersama beberapa sekolah yang sedang Tuhan percayakan untuk kami disini.
Pertanyaan dan pernyataan yang dua tahun terakhir ini sering saya dapatkan terkait soal sarjana politik jadi guru ??
Ia saya seorang Sarjana Politik yang menjadi guru. Yah. Panggil saja saya Miss.Teacher Nev yaaa.. panggil miss aja boleh, panggil teacher juga boleh, panggil Nev aja juga boleh. Jadi yang mana-mana hati senang aja deh…. Heheh.
Tidak jarang ada yang mengatakan, saya tersesat. Walaupun menenangkan lanjutannya, tersesat kejalan yang benar. Huhu
Pernyataan yang berawal dari pertanyaan, atau pernyataan yang sampai menjadi pertanyaan panjang untuk saya pribadi.
Misalnya gini nih. “Nev, sekarang jadi guru ya ? Kok bisa ? Oh iya, ga apa-apalah ya, daripada gak kerja. Kita harus mensyukuri semua pekerjaan kita, ya kan.”
Atau begini….
“Nev, habis ini mau kemana ? Gak lanjut mengajar lagi kan ?”
Hmmmm…
Dan macem-macem yang lainnya, yang kadang saya sendiri sih yang membahasakannya jadi begitu, sebenarnya gak sedrama itu juga kok. Hehe. Tapi intinya begitu-begitu jugalah. Intinya menganggap saya lagi mengerjakan sesuatu, karena memang lagi gak ada kerjaan. Di mana masuk okelah. Gitu.
Awalnya saya juga berpikir demikian. Namun semakin saya renungkan dan alami.
I said NO. BIG.. BIG NO.
Saya tidak tersesat sama sekali. Sama sekali saya tidak tersesat. Malahan saya merasa , I’m on the right track. Saya semakin merasakan saya berada di jalan yang benar tanpa mengalami ketersesatan.
Sewaktu memilih, jurusan Ilmu hubungan Internasional, dan mendapatkan gelar sarjana ilmu politik, awalnya memang karena saya pikir dengan jurusan ini saya akan bisa jalan-jalan keluar negeri dan bisa cas cis cus dalam berbagai bahasa. Hahah. Ternyata setelah nyebur airnya tak sehangat dan semenyegarkan ekspektasiku itu ferguzoooo. Percayalah.
Awalnya saya berfokus kepada kata “Internasional” nya. Namun, seiiring menjalani perkuliahan beberapa semester, fokus saya berubah, saya tidak mengatakan saya menyesal dengan jurusan ini. Fokus saya saja yang berubah, saya fokus kepada kata “politik”nya. Yah tapi memang saya tidak tekun dalam mempelajarinya secara teori selama kuliah. Huhu.
Di tengah isu miring perpolitikan bangsa Indonesia ini, saya malah tertarik tapi belum jatuh cinta sama politik, saat itu. Hanya sekedar ingin tahu saja, tapi tidak untuk memiliki. Uhuyyy
Selama kuliah saya menikmati berorganisasi dengan tujuan saya semakin memahami makna politik sesungguhnya. Sampailah saya bertemu dengan seorang tokoh bernama Dr. Johannes Leimena, disebuah organisasi bernama Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia(GMKI). Beliau telah beristirahat dalam kedamaian jauh sebelum saya terlahir kedunia ini yang fana ini. Namun semangatnya masih hidup sampai aku berkenalan dengannya, bahkan sampai hari ini aku menuliskan ini.
Hampir tiga per empat bagian dari masa perkuliahanku bersama gerakan yang digagasnya ini. Bahkan sampai pasca dua tahun lulus dari perkuliahan pun saya masih menjadi pengurus aktif disana.
Perkataan beliau mengatakan, “politik adalah seni melayani.” Mengubah pandangan saya tentang politik. Walau sejujurnya saya tidak mempunyai gambaran, mau jadi apa saya setelah mendapatkan gelar ini? Sungguh kata politikus, menjadi satu sebutan yang kurang saya sukai. Keinginan saya hanya satu pada saat itu, yaitu memperbaiki citra politik di kalangan masyarakat awam. Itu saja.
Jujur saya tidak tahu harus berbuat apa, saya mau jadi apa pada waktu itu pun saya tidak tahu. Tujuan hidup saya tidak jelas, namun prinsip saya jelas, politik itu adalah salah satucara untuk mencapai kebaikan, jika dipergunakan oleh orang baik.
Namun yang terjadi adalah malah setelah lulus kuliah dan mendapatkan gelar Sarjana Imu Politik itu, hampir dua tahun saya benar-benar merasakan pada situasi krisis identitas. Benar-benar krisis yang sampai kritis. Saya benar-benar bingung dengan diri saya sendiri. Sebenarnya perasaan krisis ini sudah sejak SMP saya alami, tapi setelah kuliah itu saya benar-benar merasakan krisis saya sudah kritis..tisss…tisss..tiss.
Saya bingung mau jadi apa. Saya ada untuk apa. Untuk apa semua ini. Apa arti kehidupan ini. Siapa saya, untuk apa saya ada. Mengapa begini, mengapa begitu. Dan ribuan pertanyaan beranak pinak setiap harinya. Tidak ada orang yang menuntun saya pada saat itu, saya tidak tahu harus bertanya kepada siapa, tidak ada tempat pengaduan.
Setiap kali melamar pekerjaan, saya selalu merasa tidak benar-benar menginginkan pekerjaan itu. Sehingga saya tidak pernah benar-benar berusaha mendapatkan pekerjaan apapun. Hanya kebutuhan sandang, pangan, dan sosial saja yang mendorong saya untuk mencari pekerjaan dan bekerja. Selebihnya semua terasa hampa dan membosankan.
Setiap kali berdoa dan berusaha, saya selalu berdoa kepada Tuhan, begini, “hanya jadilah padaMu seperti yang Engkau ingini.” Bukan karena saya benar-benar bersandar kepada-Nya saat itu, hanya saja saya tidak tahu apa yang saya inginkan sebenarnya. Dengan berbagai keraguan.
Dan setiap kali sudah bekerja, pertanyaan berlanjut, “Terus kalau aku bekerja di sini,aku menguntungkan perusahaan ini dong? Terus apa gunanya aku menguntungkan perusahaan ini? apakah hidupku akan berakhir di sini? Terus kalau pemilik perusahaan ini jahat, terus aku masuk dalam jaringan jahat dong.. kalau mereka mengambil keuntungan tidak benar lalu aku harus menjadi salah satubagian mereka dong?” Dan segudang pertanyaan dan pernyataan lainnya yang terus juga beranak pinak dengan bugarnya.
Selain itu, saya juga merasa tidak mempunyai skill apa-apa untuk bekerja di sana atau sesuai dengan jurusan saya. Awalnya saya mulai menyesali, mengapa dulu sewaktu sekolah dan kuliah saya tidak sungguh-sungguh mempergunakan setiap kesempatan yang Tuhan berikan pada saya. Memang pada kenyataannya setiap episode kehidupan saya, saya selalu menyadari hal itu, tetapi tetap saja saya terus terjebak kedalam yang namanya penyesalan-penyesalan dan penyesalan.
Saya merasa sudah melakukan berbagai usaha dan berjuang untuk mengubah pola pikir, pola hidup, dan pola implementasi setiap teori-teori kesuksesan hidup yang saya dapatkan. Jadilah saya selalu kembali pada satu titik saya benci, yaitu menyesal.
Bagi saya menyesal juga tidak ada gunanya. Namun dengan tidak menyesal bukan berarti hidup saya menjadi semakin membaik, saya semakin kacau, saya menjalani hari hidup semakin tidak bertujuan dan tidak bergairah. Menjalani kehidupan dengan hati yang kopong dan tercabik-cabik rasanya sakit tak menentu.
Saya sampai kepada satu titik, saya berkata pada diri, “Jika hidup begini-begini saja, lebih baik besok tidak usah ada lagi. Untuk apa hidup tapi tak merasa hidup.”
Waktu terus berjalan lurus. Yah sekarang saya tidak percaya bahwa waktu itu berputar, saya yakin waktu itu berjalan dan tak pernah kembali ketitik semula. Begitupun kehidupan, sesungguhnya dia tak pernah kembali ketitik yang semula, yang ada hanya perjalanan yang terus berjalan. Entah kehidupan itu bertumbuh atau tidak, yang pasti dia terus berjalan.
Di akhir bulan Juli 2019, saya mulailah berkenalan dengan Yayasan Transformasi Bagimu Negeri. Dan melalui Yayasan ini saya bertemu Yesus yang sesungguhnya. Saya baru berkenalan dengan Dia. Sungguh indah perjumpaan itu. Ahh sooo romantic. Oh My LORD.
Saya mengenal Yayasan TBN-MPK ini melalui teman saya yang juga saat ini, bersama-sama seangkatan dengan saya. Dia sedang melayani di Papua Barat, Manokwari tepatnya. Namanya Ulina, saya berteman dengannya dari organisasi yang sama yaitu GMKI. Namun jujur kami berteman hanya sekedar say hello. Kami tidak begitu mengenal sebelumnya. Hanya sekedar tau saja.
Namun saat dia masuk tahap wawancara online yayasan ini, dia langsung menghubungi saya dan meminta saya untuk mencobanya. Lalu di situlah awal perkenalan saya dengan Yayasan Transformasi Bagimu Negeri-Majelis Pendidikan Kristen di Indonesia (TBN-MPK) ini.
Saya mulai menelusuri siapa dia, seperti apa dia dan apa yang dicarinya. Dan saya menemukan, ternyata bukan saya yang dicarinya. Karena memang dengan jelas dituliskan bahwa yang mereka sedang mencari fresh graduated sarjana FKIP. Itu tertera begitu jelasnya.
Saya langsung kembali menghubungi Uli dan mengatakan apa yang saya temukan. Namun setengah mendorong dengan nada bicaranya yang khas, Uli berkata, “Coba aja dulu, Nev. Aku aja yang bukan FKIP masuk tahap wawancara.” “Oh gitu Ul, tapikan kau FMIPA Fisika dan punya pengalaman banyak dalam mengajar.” Ujarku pesimis. “Gak apa-apalah, coba ajalah dulu.” Seraya meyakinkan untuk bertempur dulu baru tahu kalah menangnya.
Okelah pikirku. Memang pada saat itu saya sedang tidak mengerjakan apa-apa dalam kondisi batin yang teramat kacau oleh karena krisi diri dan masalah keluarga yang kian menumpuk berserakan. Akhirnya hari itu, saya mengurung diri dikamar sendirian dan terus mengisi semua form pendaftaran satu demi satu. Memang begitu banyak sekali yang harus diisi. Dan dengan menuliskan itu semua, hari itu saya merasa ada kelegaan tersendiri. Meskipun sambil menulisnya, saya menangis terisak-isak juga. Hahah.
Singkat cerita, oleh karena Kemurahan Tuhan, saya dipilih dan masuk menjadi Teacher Transformation Center, disingkat TTC, nama lainnya GURU TRANSFORMASI.
Semakin hari pola pikir, pola rasa dan pola tindak saya semakin diperbaharui. Melalui wadah ini Tuhan memanggil saya. Saya menemukan tujuan hidup saya, untuk memuliakan Sang Pemilik Hidup. Bagi Dia Kemuliaan sampai selama-lamanya.
Saya memandang diri saya berbeda. Saya merasakan transformasi yang begitu dahsyat dan kerennya terjadi didalam diri saya hari lepas hari. Setiap hari mempunyai kisahnya tersendiri. Meski tidak setiap hari adalah bahagia, tapi setiap hari menjadi berarti. Karena sesungguhnya yang paling membahagiakan adalah bukan lagi tentang siapa saya, melainkan oleh karena siapa saya ada dan untuk siapa saya ada.
Cara pandang saya terhadap segala sesuatu menjadi berbeda. Terkhusus terhadap seorang guru. Ternyata menjadi guru tak semembosankan yang selama ini saya pikirkan. Tak seremeh temeh yang selama ini orang anggap, katakan dan pertunjukkan.
Semakin hari saya mengenali dan semakin amat mensyukuri saya dibawa sampai kepada jalan ini.
Why You have choosen me ? menjadi pertanyaan yang mengandung pernyataan yang membuat saya semakin terkagum kepada Sang Mahakarya yang menuliskan kisah hidupku, yang saat ini tak ada lagi yang kusesali.
Saya semakin mengenal guru yang sesungguhnya GURU.
Guru yang sesungguhnya guru adalah pribadi yang membalut luka. Guru adalah orang pilihan yang dipercaya Tuhan untuk menjadi tangan-Nya untuk menyentuh biji mata-Nya yang lain. Dia percayakan anak-anak-Nya yang dipandang-Nya sungguh amat baik, berharga, istimewa dan unik.
Sungguh berat memang menjadi guru. Teramat sangat berat !
Yah berat. Sekaligus teramat mulia. Tuhan memakai tangan seorang guru untuk mengubah dunia. Tuhan memakai hati seorang guru untuk merasakan cinta, cinta yang tak pernah bisa dibayar dengan uang. Tuhan memakai mata seorang guru untuk melihat potensi-potensi yang ditaruh-Nya di dalam diri anak-anak-Nya. Tuhan memakai pikiran guru, akal sehat guru untuk MENDIDIK anak-anak-Nya.
Setiap anak mempunyai dunianya masing-masing, guru bisa masuk kesana dan memberikan warna disana. Guru tangan Tuhan di bumi.
Saya ingin menutup tulisan ini dengan sebuah kejujuran terdalam, sungguh sebuah kehormatan istimewa ketika Ia, Sang Pemilik Hidup memanggilku menjadi seorang GURU. Guru Transformasi.
Sarjana Ilmu Politik Menjadi Guru Transformasi?? Siapa takut!!!
With God we can do everything. For His Glory.
What’s Next ?? I don’t know ! I BELIEVE GOD HAS PROVIDED GRAND DESIGN IN MY LIFE. I’LL TRUST IN HIM. IN JESUS NAME. AMEN.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *