Kabut hitam! Itu seperti gas yang kotor, dengan gumpalan-gumpalan mirip asap terbentang luas seperti lautan di atas permukaan pulau. Itulah tanah Papua. Apakah Papua adalah pulau tersembunyi? Itulah pandangan mata pertama saya Ketika saya melihat dari ketinggian. Awan apa itu berwarna kehitaman dan tebal, apakah kami tidak mengalami benturan? Ya, sedikit benturan kabut itu bertanda kota hujan.
Terbentang banyak sungai berwarna kuning keemasan, dan banyak pohon pisang berbaris rapi di beberapa lokasi dari kejauhan. Rupanya kami akan menempati kota di tengah hutan, inilah yang saya pikirkan.
Kota Timika berada di Papua Indonesia. Dalam pikiran saya ada kekacauan di tempat ini, tangisan anak-anak, amarah yang membara, gelandangan nakal, inilah yang saya pikirkan. Bagi diri saya sebagai seorang wanita yang terlalu lemah untuk semua kekacauan ini. Hal ini terlintas dalam pikiran manusia saya sebelum yang saya pikirkan sebelum mendarat di Kota ini.
Ketakutan! “TUHAN, Saya takut, TUHAN saya tidak mampu, tolong saya”. Berulang kali saya ucapkan kalimat ini. Itulah ungkapan saya ketika merasakan roda pesawat Batik Air yang melepaskan landasannya di bandara baru Timika.
Benar-benar kosong isi dalam pikiran saya. Semuanya biasa saja di mata saya, tidak ada yang baru di mata saya, semuanya terlihat sama. Namun hal pertama yang membuat saya belajar bersyukur adalah melihat air berwarna kuning, disebabkan karena karatan di dalam bak mandi penginapan. Itu aneh, namun itulah saat pertama dalam hati saya ada rasa ucapan syukur. Mengapa airnya seperti ini? Apa yang akan terjadi dengan gigi saya? Mulai bingung namun hati saya tetap merasakan adanya rasa syukur dan awal yang baik dengan segelas kopi panas pagi itu dengan menikmati hari pertama saya dengan rasa syukur.
Hari pertama di sekolah, dianggap mahasiswa praktik. Ini sangat konyol bagi saya, kami dianggap mahasiswa praktik yang akan memberi sumbangan 12 komputer dan kenyataan nya kami tiba dengan tangan kosong. Ini mengakibatkan adanya kecanggungan antara kami dan PSW, kepala sekolah. Ternyata adanya kesalahan dalam komunikasi antar berbagai pihak di sini. Namun, ini langkah awal kami belajar mengatasi kesalah pahaman ini dengan meminta pertolongan TUHAN dengan sungguh-sungguh.
Guru yang tertimpa masalah! Karena, dia akan berhadapan dengan orang tua sebagai wali kelas anak yang jatuh dari tangga. Bagian belakang kepala anak itu berdarah. Di sinilah saya belajar memberanikan diri, bagaimana mengajak seorang ibu untuk berdoa di tengah masalahnya. Dengan tanpa ragu saya meraih tangan Ibu ini, (Agusta Pisya) kami masuk ruang kepala sekolah kebetulan juga kami diberi izin masuk ruang kepala sekolah oleh bapak Kepala sekolah (Frits Padwa). Kami berdoa bertiga. Ini awal saya belajar bagaimana mengandalkan TUHAN bersama guru yang bermasalah.
Kemalingan! sangat terpukul hati saya melihat kejadian ini. Sekolah seperti kena tsunami. Ya, tepat 2 hari setelah kedatangan saya ke tempat ini. tempat penempatan saya mengalami kemalingan. Sekolah dibongkar, perlengkapan elektronik seperti printer, komputer, kamera dll, dihacurkan. Dan ironisnya hal itu dilakukan oleh alumni sekolah. Menjadi sangat terpukul, apa yang saat ini terjadi disekolah ini TUHAN? (itulah ungkapan pertama saya dalam keadaan terpukul). Bagaimana kami bisa mengatasi ini TUHAN? (Berulang kali saya bertanya pada TUHAN saat itu). Inilah langkah awal dalam hidup saya hati saya benar-benar dipenuhi pergumulan. Saya mulai bergumul bukan untuk diri saya untuk sekolah ini. Ini juga langkah awal saya benar-benar bergantung sama TUHAN dalam pergumulan.
Berdoa! Semuanya terasa kacau, tidak ada harapan saya merasa berada disekolah yang sedang kering, dan rasanya panas, tidak ada kedamaian, dan kejujuran semuanya terlihat palsu. Tidak ada yang nyata disekolah ini. Berdoa, saya berdoa berseru kepada TUHAN, setiap waktu, saat teduh, berdoa pagi disetiap kelas dan setiap ruangan disekolah bahkan sampai dilingkungan nya. Berdoa, ungkapkan semuanya kepada TUHAN. Satu hal yang saya tahu saya benar -benar tidak mampu dengan semua ini.
Saya butuh TUHAN YESUS setiap waktu. Berdoa dan bekerja, merubah semua kelas, menempel dengan Nama toko Alkitab disetiap pintu kelas, menanam tanaman ditaman depan kelas. Merubah ruangan, membuat perpustakaan, mengubah kelas menjadi kelas yang menarik bagi guru dan anak didik. Puji TUHAN setelah 2 bulan Mujizat TUHAN nyata. TUHAN ada disekolah ini dan DIA peduli. Ada seorang guru memberikan kesaksian bahwa dia merasa ada cahaya baru disekolah ini sejak kehadiran kami.
Perkelahian antara guru! Dari sini saya belajar bagaimana bertindak dengan Firman TUHAN untuk mengatasi masalah antara rekan guru, dengan bersaksi di tengah perkelahian mereka. Saya merasa ini titik awal TUHAN mengangkat diri saya menjadi seorang pemberani. Seorang yang berani menantang para guru berusia lanjut dan mengubah mereka untuk merendahkan diri dihadapan ALLAH. Ini kali pertama TUHAN membuat saya mengakui kebesaran Kuasa-NYA. TUHAN, adalah ALLAH yang besar tidak seorang pun yang menantang DIA. DIA ALLAH yang Besar!
Kota dolar! Suatu hari kami diajak pergi ke kota ini, “Kuala Kencana” Siapa sangka, di tengah kehidupan Papua yang dibilang jauh dari modernisasi ternyata ada sebuah kota yang berdiri megah. Ialah Kuala Kencana, sebuah distrik di Kabupaten Mimika, Papua, Indonesia. Distrik ini dikelola sepenuhnya oleh PT. Freeport Indonesia. Iya benar sangat megah, rapi dan bersih seperti kota termahal di Indonesia. Banyak orang mewah juga tentunya. Dari kekayaan alam yang terbentang ini justru membawa saya mengenal sang pencipta. Bukankah semua ini ALLAH yang ciptakan? Maka kebahagiaan terbesar saya adalah saya bisa mengenal kebenaran-TUHAN di sini. Di tempat dolar ini. Saya berlatih mengucap syukur, berlatih mengucapkan terima kasih membantu saya untuk terhubung dengan berkat-berkat dalam kehidupan saya. Tetapi itu juga membantu saya terhubung dengan pertumbuhan rohani disetiap pelajaran yang saya alami.
Saya bersyukur, untuk hari-hari sulit saya dengan bertahan, karena .ereka mengajari saya bagaimana menggali lebih dalam dan menemukan suara saya, Roh yang TUHAN tanamkan dalam diri saya ketika IA menanamkan saya di dalam kandungan Ibu Saya. Saya bersyukur untuk saat-saat bahagia yang TUHAN nyatakan di sekolah ini. Terganti ya kepala sekolah mulai mengubah segala sesuatu menjadi hebat disekolah. Semua ini mengajari saya, untuk menyerap tawa dan cinta dari TUHAN YESUS KRISTUS, karena itulah sihir murni yang saya dapatkan.
Saya bersyukur hanya bagi-MU TUHAN, ALLAH pemilik alam semesta ini. Saya bersyukur, diberi kesempatan dari TBN MPKI, untuk menjalani panggilan ini. Ini bagian termewah dalam setiap sudut kehidupan saya dipanggil TUHAN dalam pelayanan-NYA di Timika dengan julukan saya “kota hujan”.
Leave a Comment
Posted: September 10, 2021 by Zein Mario
Timika Kota Saya Bertumbuh Oleh Adonia Hingmadi
Kabut hitam! Itu seperti gas yang kotor, dengan gumpalan-gumpalan mirip asap terbentang luas seperti lautan di atas permukaan pulau. Itulah tanah Papua. Apakah Papua adalah pulau tersembunyi? Itulah pandangan mata pertama saya Ketika saya melihat dari ketinggian. Awan apa itu berwarna kehitaman dan tebal, apakah kami tidak mengalami benturan? Ya, sedikit benturan kabut itu bertanda kota hujan.
Terbentang banyak sungai berwarna kuning keemasan, dan banyak pohon pisang berbaris rapi di beberapa lokasi dari kejauhan. Rupanya kami akan menempati kota di tengah hutan, inilah yang saya pikirkan.
Kota Timika berada di Papua Indonesia. Dalam pikiran saya ada kekacauan di tempat ini, tangisan anak-anak, amarah yang membara, gelandangan nakal, inilah yang saya pikirkan. Bagi diri saya sebagai seorang wanita yang terlalu lemah untuk semua kekacauan ini. Hal ini terlintas dalam pikiran manusia saya sebelum yang saya pikirkan sebelum mendarat di Kota ini.
Ketakutan! “TUHAN, Saya takut, TUHAN saya tidak mampu, tolong saya”. Berulang kali saya ucapkan kalimat ini. Itulah ungkapan saya ketika merasakan roda pesawat Batik Air yang melepaskan landasannya di bandara baru Timika.
Benar-benar kosong isi dalam pikiran saya. Semuanya biasa saja di mata saya, tidak ada yang baru di mata saya, semuanya terlihat sama. Namun hal pertama yang membuat saya belajar bersyukur adalah melihat air berwarna kuning, disebabkan karena karatan di dalam bak mandi penginapan. Itu aneh, namun itulah saat pertama dalam hati saya ada rasa ucapan syukur. Mengapa airnya seperti ini? Apa yang akan terjadi dengan gigi saya? Mulai bingung namun hati saya tetap merasakan adanya rasa syukur dan awal yang baik dengan segelas kopi panas pagi itu dengan menikmati hari pertama saya dengan rasa syukur.
Hari pertama di sekolah, dianggap mahasiswa praktik. Ini sangat konyol bagi saya, kami dianggap mahasiswa praktik yang akan memberi sumbangan 12 komputer dan kenyataan nya kami tiba dengan tangan kosong. Ini mengakibatkan adanya kecanggungan antara kami dan PSW, kepala sekolah. Ternyata adanya kesalahan dalam komunikasi antar berbagai pihak di sini. Namun, ini langkah awal kami belajar mengatasi kesalah pahaman ini dengan meminta pertolongan TUHAN dengan sungguh-sungguh.
Guru yang tertimpa masalah! Karena, dia akan berhadapan dengan orang tua sebagai wali kelas anak yang jatuh dari tangga. Bagian belakang kepala anak itu berdarah. Di sinilah saya belajar memberanikan diri, bagaimana mengajak seorang ibu untuk berdoa di tengah masalahnya. Dengan tanpa ragu saya meraih tangan Ibu ini, (Agusta Pisya) kami masuk ruang kepala sekolah kebetulan juga kami diberi izin masuk ruang kepala sekolah oleh bapak Kepala sekolah (Frits Padwa). Kami berdoa bertiga. Ini awal saya belajar bagaimana mengandalkan TUHAN bersama guru yang bermasalah.
Kemalingan! sangat terpukul hati saya melihat kejadian ini. Sekolah seperti kena tsunami. Ya, tepat 2 hari setelah kedatangan saya ke tempat ini. tempat penempatan saya mengalami kemalingan. Sekolah dibongkar, perlengkapan elektronik seperti printer, komputer, kamera dll, dihacurkan. Dan ironisnya hal itu dilakukan oleh alumni sekolah. Menjadi sangat terpukul, apa yang saat ini terjadi disekolah ini TUHAN? (itulah ungkapan pertama saya dalam keadaan terpukul). Bagaimana kami bisa mengatasi ini TUHAN? (Berulang kali saya bertanya pada TUHAN saat itu). Inilah langkah awal dalam hidup saya hati saya benar-benar dipenuhi pergumulan. Saya mulai bergumul bukan untuk diri saya untuk sekolah ini. Ini juga langkah awal saya benar-benar bergantung sama TUHAN dalam pergumulan.
Berdoa! Semuanya terasa kacau, tidak ada harapan saya merasa berada disekolah yang sedang kering, dan rasanya panas, tidak ada kedamaian, dan kejujuran semuanya terlihat palsu. Tidak ada yang nyata disekolah ini. Berdoa, saya berdoa berseru kepada TUHAN, setiap waktu, saat teduh, berdoa pagi disetiap kelas dan setiap ruangan disekolah bahkan sampai dilingkungan nya. Berdoa, ungkapkan semuanya kepada TUHAN. Satu hal yang saya tahu saya benar -benar tidak mampu dengan semua ini.
Saya butuh TUHAN YESUS setiap waktu. Berdoa dan bekerja, merubah semua kelas, menempel dengan Nama toko Alkitab disetiap pintu kelas, menanam tanaman ditaman depan kelas. Merubah ruangan, membuat perpustakaan, mengubah kelas menjadi kelas yang menarik bagi guru dan anak didik. Puji TUHAN setelah 2 bulan Mujizat TUHAN nyata. TUHAN ada disekolah ini dan DIA peduli. Ada seorang guru memberikan kesaksian bahwa dia merasa ada cahaya baru disekolah ini sejak kehadiran kami.
Perkelahian antara guru! Dari sini saya belajar bagaimana bertindak dengan Firman TUHAN untuk mengatasi masalah antara rekan guru, dengan bersaksi di tengah perkelahian mereka. Saya merasa ini titik awal TUHAN mengangkat diri saya menjadi seorang pemberani. Seorang yang berani menantang para guru berusia lanjut dan mengubah mereka untuk merendahkan diri dihadapan ALLAH. Ini kali pertama TUHAN membuat saya mengakui kebesaran Kuasa-NYA. TUHAN, adalah ALLAH yang besar tidak seorang pun yang menantang DIA. DIA ALLAH yang Besar!
Kota dolar! Suatu hari kami diajak pergi ke kota ini, “Kuala Kencana” Siapa sangka, di tengah kehidupan Papua yang dibilang jauh dari modernisasi ternyata ada sebuah kota yang berdiri megah. Ialah Kuala Kencana, sebuah distrik di Kabupaten Mimika, Papua, Indonesia. Distrik ini dikelola sepenuhnya oleh PT. Freeport Indonesia. Iya benar sangat megah, rapi dan bersih seperti kota termahal di Indonesia. Banyak orang mewah juga tentunya. Dari kekayaan alam yang terbentang ini justru membawa saya mengenal sang pencipta. Bukankah semua ini ALLAH yang ciptakan? Maka kebahagiaan terbesar saya adalah saya bisa mengenal kebenaran-TUHAN di sini. Di tempat dolar ini. Saya berlatih mengucap syukur, berlatih mengucapkan terima kasih membantu saya untuk terhubung dengan berkat-berkat dalam kehidupan saya. Tetapi itu juga membantu saya terhubung dengan pertumbuhan rohani disetiap pelajaran yang saya alami.
Saya bersyukur, untuk hari-hari sulit saya dengan bertahan, karena .ereka mengajari saya bagaimana menggali lebih dalam dan menemukan suara saya, Roh yang TUHAN tanamkan dalam diri saya ketika IA menanamkan saya di dalam kandungan Ibu Saya. Saya bersyukur untuk saat-saat bahagia yang TUHAN nyatakan di sekolah ini. Terganti ya kepala sekolah mulai mengubah segala sesuatu menjadi hebat disekolah. Semua ini mengajari saya, untuk menyerap tawa dan cinta dari TUHAN YESUS KRISTUS, karena itulah sihir murni yang saya dapatkan.
Saya bersyukur hanya bagi-MU TUHAN, ALLAH pemilik alam semesta ini. Saya bersyukur, diberi kesempatan dari TBN MPKI, untuk menjalani panggilan ini. Ini bagian termewah dalam setiap sudut kehidupan saya dipanggil TUHAN dalam pelayanan-NYA di Timika dengan julukan saya “kota hujan”.
Category: Uncategorized
Recent Posts
Recent Comments