SEKOLAH KEHIDUPAN  YANG MENGUBAH MINDSETKU oleh: Sindi Tampoma

 

Tidak pernah terbayang olehku akan sampai di titik ini. Titik di mana saya belajar begitu banyak hal tentang kehidupan terlebih cara pandang saya. Di umur saya yang kala itu beranjak 22 tahun Tuhan memanggil saya untuk bekerja di ladang-Nya. Awalnya saya tidak pernah membayangkan akan tetap di dunia pendidikan karena sebelumnya saya pernah mengatakan bahwa saya tidak akan menjadi guru.

Namun, ketika saya membaca sebuah catatan doa yang pernah saya tulis maka saya teringat bahwa saya pernah mendoakan Tujuan hidup saya dan panggilan hidup saya. Tuhan menjawabnya diwaktu yang tidak pernah terduga. Lulus kuliah saya memasuki babak pertama dilatih menjadi guru Transformasi.

Bukan latihan yang mudah karena harus melakukan segala sesuatu yang tidak biasa dilakukan adalah sesuatu yang membutuhkan ketekunan. Kadang harus melawan segala keinginan daging yang sering muncul, apalagi dengan kepribadian saya yang tertutup dan tidak suka beragumen bahkan yang jarang melakukan refleksi melalui penulisan jurnal semua itu harus saya lakukan.

Waktu demi waktu berlalu, diperlengkapi melalui hamba-hamba Tuhan yang sangat luar biasa dengan panggilan masing-masing membuat saya makin di teguhkan akan panggilan saya sebagai guru. Bukan  guru biasa tapi seorang guru Kristen. Dulu saya berfikir bahwa guru semua sama, namun di sini saya baru mengetahui namanya guru Kristen sekalipun ditempatkan di sekolah Negeri tidak akan mengubah statusnya sebagai guru Kristen.

Memandang diri berharga sekalipun banyak yang menganggap tidak berharga bahkan saya sendiri sering menganggap diri tidak berharga. Tetapi Allah oleh kemurahan-Nya memampukan saya melihat diri saya sebagai seorang yang berharga dan dipilih, dipanggil dan diperlengkapi untuk pekerjaan baik demi kemuliaan-Nya.

Saat itu mulai belajar melihat potensi yang Tuhan telah titipkan di dalam diri dan mulai mengembangkannya, mulai menulis spiritual journey with God, memandang setiap orang memiliki luka dan hal itu yang membuat saya tidak segera menjudge orang lain dengan cepat tetapi belajar untuk mengenal dirinya, dan memandang mereka sebagaimana Allah memandang saya.

Sekolah kehidupan ini tidak berhenti di tiga bulan pertama. Namun saya mulai ditempa lagi di ladang yang telah dipersiapkan-Nya. Di Pulau Sumba Tuhan menempatkan saya bersama patner Nevlita Sianturi. Perbedaan budaya, bahasa, cara pandang, karakter membuat saya banyak belajar bagaimana memandang orang lain terlebih memandang patner saya sendiri, guru-guru dan anak-anak yang kami layani.

Perbedaan-perbedaan itulah yang menjadi tantangan bagi saya karena melaluinya saya harus belajar menerimanya karena disitulah letak keindahannya, seperti sebuah bejana yang terus menerus dibentuk untu menghasilkan sebuah bejana yang indah.

Saya tidak dapat berjalan sendiri tanpa orang lain. Saya percaya Tuhan tidak kebetulan menempatkan saya bersama patner saya dan menempatkan kami di Pulau Sumba disekolah Kristen SD Masehi Rua selama setahun dua bulan dan saat ini di SD Masehi Waikabubak 1.

Saya juga dibentuk melalui guru-guru yang kami layani dengan perbedaan karakter, pola pikir membuat saya dilatih untuk tekun terlebih bergantung penuh kepada Tuhan. Terlalu banyak tantangan yang diperhadapkan baik disekolah pertama maupun sekolah kedua tetapi lagi-lagi jikalau bukan karena pertolongan Tuhan saya tidak akan mampu. Karena di luar Tuhan saya tidak dapat berbuat apa-apa.

Kalimat itulah yang terus menguatkan saya dalam menjalani masa pelayanan ini. Dasarnya adalah pengenalan yang benar akan Tuhan. Hanya Dialah yang mampu mengubah mindset saya, Dialah yang memampukan saya untuk melewati tantangan demi tantangan, Dia pula yang membuat saya menerima setiap perbedaan.

Dia yang memanggil, Dia yang memilih, Dia pula yang memperlengkapi. Terpujilah Nama Tuhan. Amin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *