Menjadi bagian dari Guru Teacer Transformasi Center (TTC) tidak pernah terbayang dan tidak pernah bermimpi, apalagi menjadi guru misi itu sangat mustahil, tapi seiring berjalannya waktu menghantar saya sampai pada bulan Juli 2019, saya mendapat sekilas informasi dari media social (fb) yang di posting di grup lowongan kerja kota kupang, ketika membaca info ini saya langsung menuju ke kantor sinode GMIT setempat yang ada di kota kupang untuk memastikan informasi ini sekalian membawa sejumlah berkas yang diperlukan.
Tapi ketika sampai di sana, sempat kecewa dan sedih karena salah seorang ibu bagian pengecekan berkas, mengatakan sudah tutup tidak bisa mendaftar lagi, padahal saat itu ada seorang pak bagian pendidikan sedang berdiri di depan saya sambil menelpon keluarganya untuk segera datang ke kantor untuk daftarkan diri sebagai calon guru TTC, ketika mendengar hal ini saya terdiam dan dalam hati Tuhan Engkau tahu siapa diri dan posisi saya saat ini, saya sedang membutuhkan pekerjaan tapi kalau untuk mendapatkan pekerjaan harus punya orang dalam maka saya tidak punya siapa-siapa supaya saya andalkan sebagai orang dalam. Jadi kalau memang Tuhan tidak menghendaki saya ada ambil bagian dalam TTC ini saya iklas dan saya terima karena saya percaya belum waktunya untuk saya kerja dan saya akan tetap cari peluang lain apapun pekerjaan yang saya dapat, ajari saya untuk betekun dan bekerja dengan tulus hati.
Dengan perlahan saya pun menoleh ke belakang untuk pulang, puji Tuhan saat hendak turun tangga, ada seorang bapak bagian pendidikan datang menghampiri saya lalu beliau tanya, kamu mau perlu apa? Saya menjawab ingin ikut ambil bagian dalam tes guru TTC dan sementara saya membawa berkas-berkas untuk melengkapi persyaratan yang dibutuhkan, dan beliau langsung bilang ke ibu yang pada awalnya menolak saya untuk terima saja berkas. Namun ibu itu ngotot tidak mau menerima berkas-berkas yang saya bawah, ibu ini terus marah-marah, membentak saya, tapi dengan terpaksa beliau menerima berkas saya walaupun setelah terima beliau membuang berkas-berkas, saya terdiam sambil menahan rasa sedih dan mengangkat hati, Tuhan berikan kekuatan dan ketabahan dalam mencari pekerjaan jika saya harus melalui proses seperti ini.
Singkat cerita berbagai proses seleksi saya lewati dan dinyatakan lulus seleksi maka saya pun mulai mempersiapkan diri, berangkat bersama teman-teman ke kota Malang untuk mengikuti pembekalan dari segi pembentukan kerohanian dalam diri, ilmu dan skill selama tiga bulan, saya sangat bersykur selama tiga bulan di Malang saya dikikis dari kebiasaan masa lama lalu yang sangat bobrok terbentuklah diri saya menjadi santi yang terbiasa dengan saat teduh, percaya diri, pribadi yang terbuka, mau belajar dari orang lain.
Kemudian saatnya pengutusan ke lokasi pelayanan, pertama kali mendapat informasi bahwa saya dan patner akan ditempatkan di SD YPK Kapaurtutin yang terletak di salah satu provinsi bagian timur Indonesia. Tepatnya di Kab. Fak-Fak Provinsi Papua barat. Sama sekali tidak ada bayangan sama sekali mengenai letak lokasi pelayanan ini. Namun oleh karena pertolongan Tuhan Ia mengantar kami hingga tiba di tempat tujuan dengan baik dan selamat lalu dijemput oleh beberapa orang guru, kepala sekolah dan ketua PSW, maka saat itu juga kami mulai beradaptasi dan menjalin komunikasi di antara satu sama lain. Kemudian memulai dengan pelayanan yang sudah Tuhan percayakan kepada saya di tempat ini, awalnya terasa sangat sulit namun seiring berjalannya waktu saya mulai menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungan,cuaca, orang-orang yang saya temui dan cita rasa makanan khas Papua, maka mulai terbiasa dan pelayanan pun tetap beranjut di sekolah ini kerja sama dengan guru-guru pun berjalan dengan baik tapi pada suatu ketika saya dan patner mengalami penolakan dari rekan kerja di tempat ini (guru-guur dan kepala sekolah) dengan alasan, mereka tidak bisa memfasilitasi tempat tinggal saya dan partner sehingga kami harus dipindahkan ke tempat lain, dan ketika mendengar berita rasanya berat untuk tinggalakn tempat ini apalagi anak-anak didik yang begitu manis dan polos. Saat itu kami tidak bisa berbuat apa-apa jadi kami mengikuti arahan dari pihak yayasan untuk segera pindah.
Lalu saya dan patner harus dipindahkan ke salah satu sekolah SD YPK di Kampung Kayuni, kampung yang berada di pinggiran kota kab Fak-fak, di tempat inilah kami memulai berlatih diri untuk hidup apadanya jauh dari jaringan internet, belajar berani ketika harus naik motor pulang pergi dari kampung ke kota dengan mengendarai motor setiap minggu, dan harus melewati liku-liku pejalanan, turun naik gunung dipenuhi kabut sepajang jalan dan melewati hutan rimba, sepanjang perjalanan sampai rumah rumah kurang lebih 1 jam perjalanan. Dengan keteguhan hati dan percaya kepada pimpin Tuhan. Saya dan partner tetap setia dalam pelayanan di tempat ini. Hari berganti hari pelayanan tetap berjalan. Sampai suatu ketika kami berusaha menjalin kebersamaan dan keakraban dengan masyarakat setempat maka kami berjalan kaki pergi ke kebun masyarakat yang letaknya cukup jauh dari rumah dan harus melewati jalan berliku-liku. Mendaki bukit-bukit dan menelusuri alam yang begitu indah, di sana kami turut membersihkan kebun mereka. Kemudian makan bersama makanan khasnya mereka, daun papaya, keladi, sayur gedi, sayur tagas-tagas dan sambal pala, meski demikian kami tetap menikmati kebersama ini, kami hidup dengan tenang dan nyaman dengan orang-orang di kampung ini dengan tetap bersukacita melayani anak-anak dan guru-guru.
Sungguh banyak cerita kehidupan yang yang saya dapatkan dalam pelayanan ini, sehingga saya berpikir ini bukan sebuah pekerjaan yang sedang saya jalani melainkan suatu pelajaran kehidupan yang sedang saya lewati dan ini sangat – sangat berharga bagi saya, dan saya percaya pengalaman ini hanya akan menjadi kenangan dan tidak akan bisa terulang kembali seperti masa-masa dalam pelayanan ini. Terima kasih Tuhan untuk kesempatan berharga.
Leave a Comment
Posted: October 23, 2021 by Zein Mario
Kesempatan dalam Pelayanan oleh Susanti Bekliu
Menjadi bagian dari Guru Teacer Transformasi Center (TTC) tidak pernah terbayang dan tidak pernah bermimpi, apalagi menjadi guru misi itu sangat mustahil, tapi seiring berjalannya waktu menghantar saya sampai pada bulan Juli 2019, saya mendapat sekilas informasi dari media social (fb) yang di posting di grup lowongan kerja kota kupang, ketika membaca info ini saya langsung menuju ke kantor sinode GMIT setempat yang ada di kota kupang untuk memastikan informasi ini sekalian membawa sejumlah berkas yang diperlukan.
Tapi ketika sampai di sana, sempat kecewa dan sedih karena salah seorang ibu bagian pengecekan berkas, mengatakan sudah tutup tidak bisa mendaftar lagi, padahal saat itu ada seorang pak bagian pendidikan sedang berdiri di depan saya sambil menelpon keluarganya untuk segera datang ke kantor untuk daftarkan diri sebagai calon guru TTC, ketika mendengar hal ini saya terdiam dan dalam hati Tuhan Engkau tahu siapa diri dan posisi saya saat ini, saya sedang membutuhkan pekerjaan tapi kalau untuk mendapatkan pekerjaan harus punya orang dalam maka saya tidak punya siapa-siapa supaya saya andalkan sebagai orang dalam. Jadi kalau memang Tuhan tidak menghendaki saya ada ambil bagian dalam TTC ini saya iklas dan saya terima karena saya percaya belum waktunya untuk saya kerja dan saya akan tetap cari peluang lain apapun pekerjaan yang saya dapat, ajari saya untuk betekun dan bekerja dengan tulus hati.
Dengan perlahan saya pun menoleh ke belakang untuk pulang, puji Tuhan saat hendak turun tangga, ada seorang bapak bagian pendidikan datang menghampiri saya lalu beliau tanya, kamu mau perlu apa? Saya menjawab ingin ikut ambil bagian dalam tes guru TTC dan sementara saya membawa berkas-berkas untuk melengkapi persyaratan yang dibutuhkan, dan beliau langsung bilang ke ibu yang pada awalnya menolak saya untuk terima saja berkas. Namun ibu itu ngotot tidak mau menerima berkas-berkas yang saya bawah, ibu ini terus marah-marah, membentak saya, tapi dengan terpaksa beliau menerima berkas saya walaupun setelah terima beliau membuang berkas-berkas, saya terdiam sambil menahan rasa sedih dan mengangkat hati, Tuhan berikan kekuatan dan ketabahan dalam mencari pekerjaan jika saya harus melalui proses seperti ini.
Singkat cerita berbagai proses seleksi saya lewati dan dinyatakan lulus seleksi maka saya pun mulai mempersiapkan diri, berangkat bersama teman-teman ke kota Malang untuk mengikuti pembekalan dari segi pembentukan kerohanian dalam diri, ilmu dan skill selama tiga bulan, saya sangat bersykur selama tiga bulan di Malang saya dikikis dari kebiasaan masa lama lalu yang sangat bobrok terbentuklah diri saya menjadi santi yang terbiasa dengan saat teduh, percaya diri, pribadi yang terbuka, mau belajar dari orang lain.
Kemudian saatnya pengutusan ke lokasi pelayanan, pertama kali mendapat informasi bahwa saya dan patner akan ditempatkan di SD YPK Kapaurtutin yang terletak di salah satu provinsi bagian timur Indonesia. Tepatnya di Kab. Fak-Fak Provinsi Papua barat. Sama sekali tidak ada bayangan sama sekali mengenai letak lokasi pelayanan ini. Namun oleh karena pertolongan Tuhan Ia mengantar kami hingga tiba di tempat tujuan dengan baik dan selamat lalu dijemput oleh beberapa orang guru, kepala sekolah dan ketua PSW, maka saat itu juga kami mulai beradaptasi dan menjalin komunikasi di antara satu sama lain. Kemudian memulai dengan pelayanan yang sudah Tuhan percayakan kepada saya di tempat ini, awalnya terasa sangat sulit namun seiring berjalannya waktu saya mulai menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungan,cuaca, orang-orang yang saya temui dan cita rasa makanan khas Papua, maka mulai terbiasa dan pelayanan pun tetap beranjut di sekolah ini kerja sama dengan guru-guru pun berjalan dengan baik tapi pada suatu ketika saya dan patner mengalami penolakan dari rekan kerja di tempat ini (guru-guur dan kepala sekolah) dengan alasan, mereka tidak bisa memfasilitasi tempat tinggal saya dan partner sehingga kami harus dipindahkan ke tempat lain, dan ketika mendengar berita rasanya berat untuk tinggalakn tempat ini apalagi anak-anak didik yang begitu manis dan polos. Saat itu kami tidak bisa berbuat apa-apa jadi kami mengikuti arahan dari pihak yayasan untuk segera pindah.
Lalu saya dan patner harus dipindahkan ke salah satu sekolah SD YPK di Kampung Kayuni, kampung yang berada di pinggiran kota kab Fak-fak, di tempat inilah kami memulai berlatih diri untuk hidup apadanya jauh dari jaringan internet, belajar berani ketika harus naik motor pulang pergi dari kampung ke kota dengan mengendarai motor setiap minggu, dan harus melewati liku-liku pejalanan, turun naik gunung dipenuhi kabut sepajang jalan dan melewati hutan rimba, sepanjang perjalanan sampai rumah rumah kurang lebih 1 jam perjalanan. Dengan keteguhan hati dan percaya kepada pimpin Tuhan. Saya dan partner tetap setia dalam pelayanan di tempat ini. Hari berganti hari pelayanan tetap berjalan. Sampai suatu ketika kami berusaha menjalin kebersamaan dan keakraban dengan masyarakat setempat maka kami berjalan kaki pergi ke kebun masyarakat yang letaknya cukup jauh dari rumah dan harus melewati jalan berliku-liku. Mendaki bukit-bukit dan menelusuri alam yang begitu indah, di sana kami turut membersihkan kebun mereka. Kemudian makan bersama makanan khasnya mereka, daun papaya, keladi, sayur gedi, sayur tagas-tagas dan sambal pala, meski demikian kami tetap menikmati kebersama ini, kami hidup dengan tenang dan nyaman dengan orang-orang di kampung ini dengan tetap bersukacita melayani anak-anak dan guru-guru.
Sungguh banyak cerita kehidupan yang yang saya dapatkan dalam pelayanan ini, sehingga saya berpikir ini bukan sebuah pekerjaan yang sedang saya jalani melainkan suatu pelajaran kehidupan yang sedang saya lewati dan ini sangat – sangat berharga bagi saya, dan saya percaya pengalaman ini hanya akan menjadi kenangan dan tidak akan bisa terulang kembali seperti masa-masa dalam pelayanan ini. Terima kasih Tuhan untuk kesempatan berharga.
Category: Uncategorized
Recent Posts
Recent Comments