Timika Saksi oleh Marani Benu

“Timika adalah kota dolar” Begitu kata seorang nenek. Nenek yang kami panggil ‘nene Rumkabas’. Nenek yang saya angkat sendiri sebagai orang tua di tempat ini. Si nenek adalah orang tua pertama yang saya temui setelah kepala sekolah. Timika adalah kota impian setiap orang. Tetapi bagi saya ini biasa saja. Bahkan tidak ada yang istimewa sama sekali. beberapa hari setelah saya berada di tempat ini, beberapa dari teman – teman saya mengatakan “haah? Timika? Mau dong?”. Selalu tidak ada yang spesial dengan kota ini. benar – benar tidak ada yang spesial sama sekali dengan kota ini. Apalagi saya menyaksikan sendiri perubahan air jernih menjadi merah karena pengkaratan. Saya juga harus menyaksikan sendiri pula baju – baju putih milik saya, berubah warna dari putih menjadi kuning karat.

Dibandingkan dengan kota Kupang, kota yang orang – orang banggakan ini sungguh tidak ada apa – apanya. Di Kupang saya masih bisa bermain ke time zone kalau bosan. Kalau suntuk saya masih bisa jalan – jalan ke pantai, menghabiskan waktu di pinggir pantai sambil menikmati pisang gepeng (sambil ngeces), berteriak di pantai, pokoknya benar – benar tidak ada yang membanggakan dari tempat ini.

Sampai pada suatu saat, saya diajak oleh kepala sekolah untuk berwisata ke ‘pantai’. Di dalam benak saya suasana pantai itu seperti ombaknya yang tinggi, pasirnya yang putih, air lautnya yang biru, ikannya yang besar – besar seperti yang sudah sering saya tonton. Tetapi, benar – benar jauh dari bayangan saya. yang saya dapati hanyalah pelabuhan dengan lumpur dan anak – anak yang mandi di sana. Hal ini menambah cap yang buruk bagi tempat ini.
Kemalingan! Ya, tepat 2 hari setelah kedatangan saya ke tempat ini. tempat penempatan saya mengalami kemalingan. Sekolah dibongkar, perlengkapan elektronik seperti printer, komputer, kamera dll, dihacurkan. Dan ironisnya hal itu dilakukan oleh alumni sekolah.

Bagian inilah awal mula pergumulan saya. bergumul dengan setiap keadaan. Tuhan bahkan terus mengingatkan saya untuk berdamai dengan keadaan ini. sekalipun kota ini tidak sesuai dengan ekspektasi saya, tempat tinggal saya mengecewakan, keadaan tidak sepenuhnya seperti yang saya mau, tetapi saya percaya bahwa kota inilah tempat saya harus mengusahakan segala sesuatu.
Di ‘kota dolar’ inilah saya belajar banyak hal. Belajar mengenal karakter orang lain. Belajar menghargai orang lain. Belajar menurunkan ego sendiri. Belajar menjadi diri sendiri. Belajar hidup transparan di hadapan Tuhan. Belajar mengasihi tempat ini. belajar menjadi pribadi yang lugas. Belajar mengatakan syalom dengan hati yang merasakan damai sejahtera itu.

Pergumulan demi pergumulan. Bergumul lebih keras dari biasanya. Sesuatu yang tidak pernah saya lakukan sebelumnya dengan serius. Sesuatu yang tidak pernah benar – benar saya prioritaskan dengan sungguh – sungguh. Hanya jika saya ada maunya. Jika saya ada maunya saya pastinya akan begitu serius menggumulkan segala sesuatu.
Timika menjadi saksi pergumulan kami. Bukan tentang ‘kota dolar’ ini, melainkan tentang proses Tuhan yang begitu mendetail. Bukan tentang ‘kota tak berpengharapan ini’, melainkan tentang kehidupan besar yang sedang Tuhan percayakan pada saya. bukan tentang ‘kota kaya’ ini, tetapi tentang seberapa tunduk saya pada suara Tuhan. Tunduk untuk berdamai dengan keadaan, tunduk untuk tidak menyalahkan keadaan, tunduk untuk bersyukur dalam setiap hal yang terjadi.

Terima kasih ‘kota dolar’, sang saksi bisu perjalanan mengesankan.

One Comment on “Timika Saksi oleh Marani Benu

  1. Terpujilah Tuhan. Terima kasih kak Marani Benu telah membagikan kesaksian yang luar biasa ini. Tetap semangat untuk melewati proses Tuhan selanjutnya. God be with You❤

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *